Jumat, 23 Oktober 2020

Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah (Hadits 51-100)

Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah (Hadits 51-100). 

Hadits 51. 

إذا آتاك الله مالا فلير أثر نعمة الله عليك وكرامته. رواه الحاكم عن والد أبى الأحواص

Apabila Allah memberi engkau harta-benda, maka perlihatkanlah bekas kurnia (anugerah) Allah atas engkau dan kemuliaanNya itu. (HR. Al Hakim, Dari Walid Abil Ahwash ra.)

Penjelasan : 
Apabila seseorang memperoleh harta-benda, maka tampakkanlah ni'mat Allah dan anugerahNya itu dengan menggunakannya ke jalan yang diridhoiNya, seperti untuk membantu majelis Ta’lim, pembangunan Masjid, Ponpes, membantu anak yatim, faqir miskin, dll.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 52. 

إذا أتيتم الصلاة فعليكم السكينة، فما أدركتم فصلوا وما فاتكم فأتموا. رواه الشيخان

Apabila kamu sekalian berangkat untuk melakukan shalat berlaku tenanglah (jangan terburu-buru), apa yang kamu jumpai (pada sang Imam) shalatlah (bersamanya) dan apa yang telah terlewat sempur nakanlah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan :  
Seperti apa yang telah dijelaskan pada hadits no. 26, bahwa sikap tenang/perlahan-lahan itu datangnya dari Allah, begitu pula di sini dianjurkan agar kita bersikap tenang dalam langkah-langkah kita menuju ke masjid untuk menunaikan shalat. Tidak perlu terburu-buru karena sifat terburu-buru itu datangnya dari syetan atau sifat yang biasa dilakukan syetan, terlebih lagi jika kita hendak menghadap Tuhan, menghadap Tuhan sangat diharuskan berlaku tenang karena hal ini memerlukan konsentrasi dan kekhusyu'an. Dapat disimpulkan dari hadits ini bahwa sang ma'mum itu dapat memperoleh keutamaan berjama'ah dalam bagian manapun ia bergabung shalat dengan sang Imam, dalam melakukan segala hal kita hendaknya tidak tergesa-gesa, kecuai kita tergesa-gesa yang boleh dilakukan bahkan untuk disegerakan hanya dalam 6 hal yaitu, 1. Bila ada seseorang yang ingin masuk Islam, maka hendaknya kita bimbing langsung untuk (mengucapkan) bersyahadat, setelah itu barulah kita antar ke ulama setempat untuk bersyahadat kembali, agar bila mati saat itu orang tersebut sudah dalam keadaan memeluk Islam, karena telah bersyahadat. 2. Dalam menyuguhkan tamu, 3. Menangani pengurusan mayit (untuk mempercepat menguburkannya), 4. Menikahkan anak perempuan jika sudah baligh (ditakutkan berbuat maksiat), 5. Dalam membayar hutang bila tiba saat pembayaran hutang yang telah di janjikannya, agar bila mati dalam keadaan tidak memiliki hutang, dan 6. Bertaubat jika terlanjur berbuat dosa dan maksiat, agar bila mati dalam keadaan tidak memiliki dosa besar yang bisa menyebabkan meninggal dalam keadaan su’ul khotimah maupun mati dalam keadaan melakukan dosa besar, Na’uudzubillah min dzalik.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 53.

إذا أحب الله عبدا ابتلاه ليسمع تضرعه. رواه البيهقى عن عبى هريرة

Apabila Allah mengasihi hambaNya, maka la menurunkan cobaan padanya untuk mendengar permohonannya. (HR. Al Baihaqi, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Seseorang yang tertimpa musibah merupakan pertanda baginya bahwa dirinya dicintai Allah swt. dan sekaligus merupakan ujian apakah ia bersabar atau tidak?

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 54. 

إِذَا أَحْسَنَ الرَّجُلُ الصَّلاَةَ فَأتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا ، قَالَتِ الصَّلاَةُ : حَفِظَكَ الله كَمَا حَفِظْتَنِي فَتُرْفَعُ وَإِذَا أَسَاءَ الصَّلاَةَ فلَمْ يُتِمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا قَالَتِ الصَّلاَةُ ضَيَّعُكَ الله كَمَا ضَيَّعْتَنِي ، فَتُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ ، فَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُهُ. رواه الطيالسى عن عبادة ابن الصمات

Apabila seseorang membaikkan shalatnya, menyempurnakan ruku' dan sujudnya. Berkatalah sang shalat : Semoga Allah memelihara engkau sebagaimana engkau memelihara aku, maka diangkatlah shalatnya itu ke hadhirat Allah. Dan apabila seseorang memburukkan shalatnya dan tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya, berkatalah sang shalat : Semoga Allah menyia-nyiakan engkau sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku, maka dibungkuslah shalatmya itu sebagaimana membungkus kain yang buruk, lalu dipukulkanlah ke mukanya. (HR. Ath Thayalisi, Dari 'Ubadah bin Shamit ra.)

Penjelasan : 
Jika mengerjakan shalat maka kerjakanlah dengan baik (dengan menyempurnakan wudhunya) dan sempurnakanlah ruku' dan sujudnya, niscaya shalat itu akan mendo'akan orang yang mengerjakannya agar dipelihara Allah, sebagaimana halnya memelihara shalat tersebut. Tetapi apabila shalat itu dikerjakan tidak sempurna rukun dan syaratnya sholat, maka shalat itu akan dilipat dan dibungkus seperti membungkus kain buruk dan busuk, dan akan dipukulkan (dilemparkan) ke muka orang yang mengerjakan shalat itu. Ini adalah suatu gambaran atau kata kata kiasan yang mengandung maksud bahwa shalat yang tak sempurna itu, tidak diterima Allah dan akan menjadi siksaan Allah di kemudian hari.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 55.

إذا أذن المؤذن يوم الجمعة حرم العمل. رواه الديلمى

Apabila muadzdzin mulai mengumandangkan adzan Jumatnya, maka haramlah melakukan pekerjaan apapun. (HR. Ad Dailamy)

Penjelasan : 
Apabila sudah terdengar adzan telah memanggil untuk shalat pada bari Jum'at, maka hendaklah ia tinggalkan segala pekerjaannya. Dan haram baginya melakukan pekerjaan apapun dan ia harus meninggalkannya untuk mengerjakan shalat Jum'at.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 56.

إِذَا أَتَيتَ مَضْجَعَكَ فَتَوضَّأْ وضُوءَكَ لِلصَّلاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلى شِقِّكَ الأَيمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نفِسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَألْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَامَلْجَأَ وَلَا مَنْجَي مِنْكَ إِلاَّ إِليْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. رواه البخارى و مسل

Apabila engkau datang ke tempat tidurmu, maka berwudhu 'lah seperti wudhu' untuk shalat, kemudian berbaringlah atas lambung kananmu, kemudian katakanlah: "Ya Allah, aku menyerahkan wajahku kepada Engkau, dan menyerahkan pekerjaanku kepada Engkau dan memperlindungkan seluruh tubuhku kepada Engkau karena kesukaan dan ketakutanku kepada Engkau, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat minta tolong (menyelamatkan) kecuali kepada Engkau. Ya Alah! Aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan dan Nabi yang telah Engkau utus. (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan :  
Kalau kita akan tidur berwudhu'lah sebagaimana berwudhu' untuk shalat dan miringkanlah badan ke sebelah kanan lalu bacalah do'a seperti yang tersebut di atas ini, dan jika tidak hafal dalam Bahasa Arab, boleh juga diucapkan dalam bahasa Indonesia, mudah-mudahan kita diselamatkan Allah swt. dalam tidur kita itu.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 9, Penerbit Al Haromain)

Hadits 57.

اذا ارادالله بعبد خيرا جعل غناه في نفسه، و تقاه في قلبه، واذا اراد الله بعبد شرا جعل فقره بين عينيه. رواه الحاكم عن أبى هريرة

Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hambaNya, Allah menjadikan kekayaannya ada pada dirinya, dan ketakwaannya ada pada hatinya. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan terhadap hambaNya, Allah menjadikan kemiskinannya berada di hadapan matanya. (HR. Al Hakim, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Seseorang yang kaya jiwanya dan hatinya, yang penuh dengan ketakwaan kepada Allah, itulah dia orang yang mendapat kebaikan dari Allah karena amalnya yang baik dan bilamana orang itu jahat, maka kesusahan-kesusahanlah yang selalu menimpanya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 58.

اذا اراد الله بعبد خيرا فقهه فى الدين، وزهده فى الدنيا وبصره عيوبه. رواه البيهقى عن انس

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, maka Ia memberikan kefahaman agama kepadanya, menganugerahinya sifat zuhud (menjauhi) terhadap duniawi, dan memperlihat kan kepadanya akan aib-aib (kekurangan-kekurangan) dirinya. (HR. Al Imam Baihaqiy, Dari sahabat Anas ra.)

Penjelasan : 
Seorang hamba yang ditakdirkan baik oleh Allah, ciri ciri khasnya adalah: alim dalam ilmu agama, zuhud (menjauhi) perkara keduniawian dan mengetahui keaiban/kelemahan dirinya sehingga segera ia memperbaikinya. Sifat-sifat tersebut akan membawa seorang hamba kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Berkat ilmu agama ia mengetahui mana hal-hal yang dihalalkan dan mana hal-hal yang diharamkan. Sifat zuhud membuat jiwa pelakunya  kaya tidak tamak terhadap perkara duniawi, semua urusan duniawi yang ia kerjakan hanyalah semata mata demi untuk meraih kebahagiaan diakhirat kelak. Hal-hal tersebut di atas menghantarkan diri seseorang untuk bisa meraba kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, lalu segera ia memperbaikinya, hal ini sesuai dengan sebuah atsar yang mengatakan: "Perhitungkanlah dirimu sebelum dirimu diperhitungkan (oleh Allah kelak di akhirat)".

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 59.

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. رواه الطبرانى عن عمار بن ياير

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka la menyegerakan siksaan kepadanya (atas dosa-dosanya) di dunia ini, dan apabila Allah menghendaki kejelekan bagi hamba-Nya, maka la menangguhkan siksaan dosanya sampai nanti ditunaikan kepada nya kelak di hari kiamat. (HR. Ath Thabraniy, Dari 'Ammaar ibnu Yaasir ra.)

Penjelasan : 
Hadits ini mengandung nasihat kepada orang-orang mu'min agar berlaku sabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa mereka dalam kehidupan dunia ini. Orang yang beriman akan menyadari, bahwa suatu musibah yang menimpa dirinya dalam kehidupan ini, merupakan siksaan Allah yang disegerakan padanya oleh sebab perbuatan dosa yang telah dilakukannya apakah ia sadar akan hal itu ataupun tidak. Dalam hal ini ada suatu hadits yang mengatakan : "Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada suatu dosa yang tidak bisa dihapus melainkan hanya dengan musibah (yang menimpa pelakunya)".
Adapun mengenai hamba yang telah ditakdirkan jelek oleh Allah swt., dosa apapun yang dilakukannya oleh Allah dibiarkan saja, sampai dosa-dosanya menggunung. Akan tetapi kelak di akhirat ia akan menemui balasannya yang setimpal, kalau orang yang pertama tadi mati dalam keadaan bersih tidak membawa dosa karena sudah dilebur/dimaaf melalui musibah yang menimpanya, sedangkan orang yang kedua ini mati dalam keadaan membawa segunung dosa.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 60.

إذا أراد الله بعبدٍ خيرًا فتح له قُفلَ قَلبِه، وجعلَ فيه اليقينَ والصِّدقَ، وجعل قلبَه واعيًا لِما سلك فيه، وجعل قَلبَه سَلِيمًا، ولسانَه صادِقًا، وخليقتَه مُستقيمةً، وجعل أذُنَه سَميعةً، وعينَه بَصيرةً. رواه الشيخ عن أبى ذر

Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, Allah membukakan pintu hatinya, lalu Allah mengisinya dengan keyakinan dan kejujuran dan Allah menjadikan hatinya waspada terhadap apa yang sedang ia jalani dan Allah menjadikan hatinya sejahtera (lapang) dan lidahnya benar, dan tabiatnya baik dan Allah menjadikan telinganya mau mendengarkan dan matanya mempunyai ketajaman pandangan. (HR. Asy Syekh, Dari Abu Dzar ra.) 

Penjelasan : 
Hamba Allah yang baik, hatinya terbuka menerima yang baik-baik dengan penuh keyakinan dan kejujuran, hatinya terpelihara dari sifat-sifat yang tidak baik, lidahnya tidak mau berdusta, mencaci maki orang dan sebagainya, akhlaknya baik, telinganya terpelihara dari mendengarkan perkataan yang palsu-palsu, seperti ghibah, dan matanya mem perhatikan yang baik-baik seperti membaca Al Qur’an, memandang ulama, dan sebagainya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 61. 

إذا أراد الله إنفاذ قضائه وقدره، سلب ذوي العقول عقولهم حتى ينفذ فيهم قضاؤه وقدره، فاذا قضى أمره، رد عقولهم ووقعت الندامة. رواه الديلمى عن أنس

Apabila Allah bermaksud melaksanakan qadha dan qadar-Nya, terlebih dahulu Ia mencabut kepandaian orang-orang yang berakal, kemudian baru la melaksanakan qadha dan qodar-Nya terhadap mereka. Dan setelah Allah swt. menunaikan qadha dan qadarnya, lalu la mengembalikan kepandaian mereka sehingga terjadilah penyesalan (dalam diri mereka). (HR. Ad Dailamiy, Dari Anas ra.)

Penjelasan : 
Kekuasaan Allah itu berada di atas segalanya, di hadapan kekuasaan Allah semuanya tidak ada apa apanya. Betapapun kejeniusan seseorang itu tidak akan bisa membendung qadha dan qadar Allah. Apabila Allah swt. hendak menerapkan qadha dan qadar-Nya tak ada sesuatu pun yang bisa menghalang-halangi-Nya. Hadits tersebut hanyalah merupakan gambaran tentang kekuasaan Allah, jadi bukan keadaan yang semestinya. Adapun mengenai kekuasaan Allah, pada hakikatnya jauh lebih daripada itu.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 62. 

اذا اردت ان تفعل امرا فتدبر عاقبته، فان كان خيرا فامض ، وان كان شرا فانته. رواه  ابن المبارك

Apabila engkau bermaksud melakukan sesuatu pekerjaan, maka pikirkanlah akibatnya, jika sekiranya baik, teruskanlah dan jika sekiranya tidak baik (jahat) maka hentikanlah. (HR. Ibnul Mubarak)

Penjelasan : 
Tiap-tiap sesuatu pekerjaan harus dipikirkan akibatnya, apakah bermanfaat atau merugikan? Apabila telah nyata manfaatnya, maka janganlah ragu-ragu untuk meneruskannya dan jika rasanya akan merugikan, tahanlah atau hentikanlah. Jadi berpikirlah, karena berpikir itu adalah pelita hati.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 10, Penerbit Al Haromain)

Hadits 63. 

إذا أردت أمرا فعليك بالتؤدة، حتى يريك الله منه المخرج. رواه  البخارى

Apabila engkau menghendaki sesuatu perkara maka engkau harus tekun berupaya, kelak Allah akan memperlihatkan kepadamu jalan keluarnya. (HR. Bukhari)

Penjelasan :  
Di dalam melakukan suatu pekerjaan diperlukan ketekunan dan kesabaran, apabila seseorang mengalami kesulitan atau hambatan-hambatan haruslah ia berlaku sabar dan rajin berupaya serta janganlah sekali-kali putus harapan, karena kunci keberhasilan dalam mengusahakan sesuatu itu terletak pada ketekunan dan kerajinan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 64. 

إذا أردت أنْ تذْكُرَ عيوبَ غيرِكَ فاذكُرْ عيوبَ نفسِكَ. رواه  الرافعى

Apabila engkau bermaksud menyebutkan aib orang lain, maka sebutkanlah 'aib dirimu sendiri. (HR. Ar Rofi’i) 

Penjelasan : 
Aib adalah cacat atau sesuatu yang tak baik yang ada pada diri kita atau di orang lain. Kita tidak dibolehkan mengeluarkan atau menceritakan aib orang lain, yang kita sendiripun tidak luput daripada yang demikian (tidak suka jika aib kita diceritakan kepada orang lain), jangan seperti kata peribahasa : Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk-mata tidak nampak. 

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 65. 

إذا أردت أن يحبك الله فأبغض الدنيا، وإذا أردت أن يحبك الناس فما كان عندك من فضولها فانبذه إليهم‏. رواه  الخطيب عن ربعى بن خراش مرسلا

Apabila engkau menghendaki agar dicintai Allah, maka bencilah terhadap duniawi. Dan apabila engkau menghendaki disenangi manusia, maka berikanlah kelebihan duniawi yang ada padamu untuk mereka. (HR. Al Khathib, Dari Rib'iy Ibnu Khirasy secara Mursal)

Penjelasan : 
Membenci duniawi artinya janganlah engkau teperdaya oleh kemilauannya sehingga menyeretmu ke dalam kerusakan. Oleh karena itu gemar gemarlah beramal shadaqah dan berinfaq, orang yang gemar beramal shadaqah berarti ia gemar menabung untuk akhiratnya, Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan pahalanya, bahkan dilipat gandakan rizki dan pahala orang yang bershodaqoh sampai 700 kali lipat, orang yang gemar shodaqoh akan dicintai Allah dan juga dicintai makhluk-Nya. Di dalam hadits ini terkandung anjuran untuk hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan, karena dunia ini hanyalah bersifat sementara sedangkan kebahagiaan yang abadi itu hanyalah di akhirat kelak. Untuk itu bersiap-siaplah sejak dini hari untuk menyambutnya dengan meningkatkan amal shadaqah kita, guna untuk bekal kita nanti di akhirat.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 66. 

إذا استيقظ الرجل من الليل وأيقظ أهله فصليا ركعتين كتب من الذاكرين

Apabila seseorang bangun pada malam hari, dan ia membangunkan keluarganya (istrinya) kemudian keduanya melakukan shalat dua raka'at, maka Allah menulis kedua orang itu sebagai orang yang banyak mengingat Allah dari laki-laki dan perempuan. (HR. Ibnu Hibban, Dari Abu Sa'id ra.)

Penjelasan : 
Orang yang shalat tengah malam (Tahajud, Taubat dan witir) serta membangunkan keluarganya (isteri) agar shalat malam, maka dia akan mendapat pahala yang besar dan dia termasuk golongan orang yang banyak mengingat kepada Allah.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 67.

‏إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ‏:‏ الحَمْدُ لله الَّذي رَدََّ عَلَيَّ رُوحِي، وَعافانِي في جَسَدِي، وأذِن لي بذِكْرِهِ. رواه  ابن السنى عن أبى هريرة

Apabila seseorang kamu bangun dari tidurnya, maka katakanlah : ALHAMDULILLAHIL LADzII RODDA ‘ALAYYA RUUHII, WA ‘AAFAANII FII JASADII WA ADzINA LII BIDZIKRIHI (Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan ruhku, dan yang memelihara jasadku (tubuhku) dan yang mengizinkan bagiku untuk bisa mengingat-Nya). (HR. Ibnu Sunni, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Jika kita bangun tidur hendaklah membaca do'a yang tersebut di atas ini, atau membaca do'a itu dalam bahasa Indonesianya, karena dengan rahmat dan kurnia Allah kita bangun tidur dengan sehat wal'afiat.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 68. 

إذا اشتكيت فضع يدك حيث تشتكي , ثم قُلْ : باسم الله أعوذ بعزة الله , و قدرته من شرّ ما أجد من وجعي هذا , ثمّ ارفع يدك , ثم أعد ذلك وترا. رواه  الترمذى عن أنس

Apabila engkau terserang suatu penyakit, maka letakkanlah tanganmu pada anggota yang sakit kemudian bacalah : BISMILLAAHI A’UUDzU BI’IZZATILLAHI WA QUDROTIHI MIN SyARRI MAA AJIDU MIN WAJ’II HADzA (Dengan nama Allah, aku berlindung kepada kemuliaan Allah dan kekuasaanNya dari kejahatan apa yang aku peroleh dari penyakitku ini), Kemudian angkatlah tanganmu dan ulangilah seperti itu dalam bilangan ganjil. (HR. At Tirmizdi, Dari Anas ra.)

Penjelasan : 
Jika seseorang terserang suatu penyakit, maka bermohonlah pada Allah dengan membaca do'a yang tercantum di atas ini, atau do'a dalam Bahasa Indonesianya, serta letakkan tangan pada tempat yang sakit itu dan perbuatlah berulang-ulang, dalam bilangan ganjil.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 69. 

إذا أصاب أحدَكم مصيبةٌ فليقُلْ : إنا لله وإنا إليه راجعون ، اللهم عندَك أَحتَسِبُ مُصيبَتي ، فأَجِرْني فيها ، وأَبدِلْني بها خيرًا منها. رواه  ابن ماجه عن أبى سلمة

Apabila seseorang diantara kanmu tertimpa suatu musibah (cobaan), maka katakanlah : INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUNA, ALLAAHUMMA INDAKA AHTASIBU MUShIBATII FA-JURNII FIIHAA WABDILNII BIHAA KhOIRON MINHAA (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kami akan kembali Kepada-Nya. Ya Allah! hanya kepada-Mulah aku memohon pahala atas musibahku ini, maka lepaskanlah aku dari padanya dan gantilah cobaan itu dengan kebaikan). (HR. Ibnu Majah, Dari Abu Salamah ra.)

Penjelasan : 
Seseorang yang mendapat musibah (cobaan) hendaklah dia bersabar dan bacalah do'a di atas ini, baik dalam bahasa Arab atau dalam Bahasa Indonesia, mudah-mudahan dengan kesabaran itu akan mendapat pahala dan akan diganti oleh Allah dengan kebaikan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 11, Penerbit Al Haromain)

Hadits 70.

إذا أصبحتم فقولوا اللَّهمَّ بك أصبحنا، وبك أمسينا، وبك نحيا، وبك نموتُ، وإليك المصيرُ. رواه ابن ماجه عن أبى هريرة

Apabila kamu berpagi (berada diwaktu pagi), maka katakanlah : ALLAHUMMA BIKA AShBAHNAA, WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAHYAA, WA BIKA NAMUUTU, WA ILAIKAL MAShIIR(U) (Ya Allah! Dengan Engkau kami berpagi, dan dengan Engkau kami berpetang, dan dengan Engkau kami hidup dan dengan Engkau kami mati dan kepada Engkau tempat kami kembali). (HR. Ibnu Majah, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Apabila kita berada di waktu pagi, maka bacalah do'a di atas ini, karena umur kita masih dipanjangkan Allah, sehingga kita berada pula di waktu sore dan begitulah seterusnya. Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita dan kepada-Nya tempat kita kembali, oleh karena itu setiap saat janganlah lupa kepada Allah.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 71.

إذَا اضْطَجَعْتَ فَقُلْ: بِاسْمِ اللهِ، أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَنْ يَحْضُرُونِ. رواه أبو نصر السنج ري عن عمر

Apabila engkau berbaring, maka katakanlah : "Dengan nama Allah, aku berlindung kepada kalimat Allah yang sempurna, daripada kemarahan-Nya dan siksaan-Nya, dan daripada kejahatan hamba-Nya, dan daripada hasutan setan yang datang. (HR. Abu Nashir As Sanjiri, Dari Umar ra.)

Penjelasan : 
Bilamana seseorang mengalami kegelisahan dalam tidurnya, maka bacalah do'a sebagaimana yang tertulis di atas ini, semoga kita terpelihara dari fitnah godaan setan (seperti sering mimpi menyeramkan) dan semoga kita diselamatkan Allah sampai bangun dari tidur.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 72.

إِذَا أُعْطِيتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ ، فَكُلْ وَتَصَدَّقْ. رواه النسائى عن ابن عمر

Apabila engkau diberi orang akan sesuatu, tanpa engkau minta, maka makanlah dan sedekahkanlah. (HR. An Nasa'I, Dari Ibnu 'Umar ra.)

Penjelasan : 
Dalam agama Islam sangat tercela meminta-minta kepada orang, untuk kepentingan dirinya sendiri, karena malas bekerja. Akan tetapi jika ada seseorang yang memberi sesuatu tanpa diminta, maka terimalah dan makanlah sebagian apa yang diberikannya itu, kemudian sedekahkanlah selebihnya kepada orang lain.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 73.

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنه بركة ، فإن لَمْ يَجِدْ تمرا فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّهُ طَهُورٌ. رواه الإمام أحمد

Apabila seseorang kamu berbuka, berbukalah dengan kurma, karena sesungguhnya kurma itu membawa berkah, jika tidak memperoleh kurma, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci. (HR. Ahmad)

Penjelasan : 
Di negeri Mekah banyak kurma, oleh karena itu Nabi SAW. menyuruh orang berbuka dengan kurma, tetapi di negeri kita tidak ada kurma, maka kita disuruh berbuka dengan air dan sebaiknya air yang manis supaya mengenakkan makan. Suruhan Nabi itu bukan menunjukkan wajib dengan buah kurma atau air, tapi lebih baik, supaya selera makan lezat dan enak.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 74.

إذا أقل الرجل الطعم ملئ جوفه نورا. رواه الديلمى عن أبى هريرة

Apabila seseorang makannya sedikit maka perutnya menjadi penuh dengan cahaya. (HR. Ad Dailami, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Makan banyak dengan makan yang sedikit, lebih baik makan yang sedikit (jangan terlalu kenyang), nanti mendatangkan sakit, juga memperberat untuk ibadah, sebab orang yang banyak makan maka akan banyak minum, orang yang banyak makan dan minum akan membuat badan menjadi kekenyangan sehingga akan membuat mengantuk, sehingga akan menjadikan malas beribadah. Manusia hidup bukanlah untuk makan, tapi makanlah supaya hidup dan diri akan dipenuhi oleh cahaya, artinya badan sehat pikiran terbuka.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 75.

إذا أقيمت الصلاة وحضر العشاء فابدءوا بالعشاء. رواه الشيخان

Apabila shalat telah didirikan, kemudian makanan malam telah dihidangkan, maka mulailah (dahulukanlah) makan malam. (HR. Asy Syaikhani)

Penjelasan : 
Jika kita akan mengerjakan shalat, sedangkan makanan telah terhidangkan dan waktu sholat masih panjang, maka makanlah dahulu, kemudian barulah kerjakan shalat, sebab kalau mengerjakan sholat dahulu sebelum makan maka bisa membuat sholat kita tidak khusu sebab akan kepikiran makanan tersebut sehingga akan mengganggu kekhusuan sholat kita.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 76. 

إذا أكَلَ أَحَدُكُمْ فَليَذْكُر اسْمَ الله تَعَالَى، فإنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ الله في أَوَّلِهِ، فَليَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ. رواه الترمذى

Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, maka sebutlah nama Allah, dan jika kamu lupa menyebut nama Allah pada permulaannya, maka katakanlah: BISMILLAAHI AWWALAHU WA AAKhIROHU (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). (HR. At Timidzi) 

Penjelasan : 
Setiap makan bacalah "Bismillahir Rohmanir Rohiim" jika lupa membacanya, maka bacalah dipertengahan saat ingat belum membaca Basmalah atau membacanya sesudah selesai makan dengan perkataan : BISMILLAAHI AWWALAHU WA AAKhIROHU (Dengan nama Allah pada awalnya dan akhirnya, saya memakan makanan ini). Apabila engkau lakukan hal itu, maka syetan menjauh darimu (tidak ikut makan).

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 77. 

إذَا أكَلَ أَحَدُكُمْ فليأكل بيمينه وليشرب بيمينه وليأخذ بيمينه وليعط بيمينه. رواه الحسن بن سفيان

Apabila seseorang di antara kamu makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan minumlah dengan tangan kanannya, dan mengambillah dengan tangan kanannya dan memberilah dengan tangan kanannya. (HR. Hasan bin Sufyan)

Penjelasan : 
Dalam kesopanan Islam, tangan kananlah yang memegang peranan penting ketika makan, minum dan mengambil sayur, ikan, atau memberikannya, memberikan piring sambal kepada orang, haruslah dengan tangan kanan, kecuali jika tangan kanannya itu ada 'udzur (halangan karena sakit, buntung) tentulah dima'afkan dengan tangan kiri karena terpaksa, sebab diriwayatkan Syaitan makan, minum mengambil dan memberi dengan tangin kirinya, jadi kalau kita makan, minum, mengambil den memberi dengan tangan tangan maka kita mengikuti cara Syaitan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 78. 

إذا أمَّ أحدُكم الناسَ فليُخفِّف، فإن فيهم الصغيرَ والكبيرَ والضعيفَ  والمريض وذا الحاجة، وإذا صلى لنفسه فليطول ما شاء. رواه الترمذى عن أبى هريرة

Apabila seseorang di antara kamu menjadi imam shalat, ringankanlah maka sesungguhnya pada mereka (para ma'mum) terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, orang sakit, dan orang yang mempunyai kepentingan yang sangat, dan apabila ia shalat sendirian, maka panjangkanlah (lamakanlah) menurut yang dikehendaki. (HR. At Tirmidzi, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Jika seseorang menjadi imam shalat, maka cara mengerjakan shalat itu janganlah terlalu lama (dengan membaca ayat-ayat yang panjang-panjang), tapi hendaklah dipilih ayat yang sedang Panjangnya, karena yang menjadi ma'mum itu bermacam-macam, ada orang tua yang sudah lemah, atau anak kecil, atau orang mempunyai kepentingan yang sangat, seperti mau bepergian jauh yang mana jika shalat itu agak dilamakan karena ayatnya panjang, maka tentulah orang tua merasa keberatan berdiri lama dan orang yang akan bepergian kecewa (ditinggalkan kereta api dan sebagainya). Tapi jika ia shalat sendirian, perbuatlah apa yang ia dikehendaki, apakah ia membaca ayat-ayat panjang atau pendek, itu terserah kepadanya. (Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 79.

إذا انفقت المرأة من بيت زوجها غير مفسدة كان لها أجرها بما انفقت، ولزوجها أجره بما كسب، وللخازن مثل ذلك: لا ينتقص بعضهم من أجر بعض شيئا. رواه الشيخان عن عائشة

Apabila seorang perempuan menafkahkan dari harta milik suaminya bukan untuk tujuan merusak hartanya, maka baginya pahala dari apa yang dinafkahkannya, dan bagi suaminya mendapat pahala dari apa yang diusahakannya dan bagi khazin (bendahara)nya pahala semisal demikian : pahala masing-masing tidak mengurangi pahala yang lainnya. (HR. Asy Syaikhani (Bukhari dan Muslim), Dari ‘Aisyah ra.)

Penjelasan : 
Seseorang wanita yang membelanjakan dari rumah tangga suami nya tanpa sepengetahuannya untuk tujuan baik, maka wanita itu akan mendapat pahala yang dinafkahkannya. Demikian pula suaminya akan mendapat pahala pula dari apa yang telah diusahakannya, sehingga pahala masing-masing itu tidak mengurangi pahala lainnya. Begitu pula yang menjadi kasir rumah tangganya, akan mendapat pahala pula atas apa yang telah dilakukannya (memberikan harta kepada majikan perempuannya).

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 12, Penerbit Al Haromain)

Hadits 80. 

إذا تثاءب أحدكم فليضع يده على فيه ولا يعوي، فإن الشيطان يضحك منه. رواه ابن ماجه عن أبى هريرة

Apabila seseorang di antara kamu menguap, hendaklah ia letakkan tangannya atas mulutnya, dan jangan berbunyi, sebab setan akan menertawakannya (bila ia melakukan hal itu). (HR. Ibnu Majah, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Seseorang yang menguap, hendaklah ia tutup mulutnya, jangan membuka mulutnya dan jangan bersuara. Barangsiapa yang menguapnya bersuara, niscaya setan akan mentertawakannya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 81. 

ﺇﺫﺍ ﺗﻢ ﻓﺠﻮﺭ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﻠﻚ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻓﺒﻜﻰ ﺑﻬﻤﺎ ﻣتى ﺷﺎﺀ. رواه ابن عدى عن عقبة بن عامر

Apabila kedurhakaan seorang hamba telah mencapai puncaknya, maka kedurhakaannya itu mempengaruhi kedua matanya, sehingga ia bisa menangis kapanpun ia maui. (HR. Ibnu 'Ady, Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra.)

Penjelasan : 
Orang yang sudah banyak dosanya, maka pada suatu waktu dia akan menyesal dan menangis, di waktu datang penyesalannya itu, Tapi ingatlah sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna (setiap tindakan atau perbuatan itu hendaknya dipikirkan dahulu baik-baik sebelum dikerjakan agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari).

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 82.

إذا ترك العبد الدعاء للوالدين ينقطع عنه الرزق. رواه الديلمى

Apabila seorang hamba meninggalkan (tidak) mendo’akan orang tuanya, niscaya putuslah rezekinya. (HR. Ad Dailamiy)

Penjelasan : 
Manusia disuruh berbakti dan berbuat baik kepada orang-tuanya, termasuk mendo’akan orang-tuanya, sebab do’a anak yang saleh dikabulkan Allah swt. Barangsiapa yang melupakan orang-tuanya termasuk tidak mendo’akan orang-tuanya, maka akan putuslah rezekinya, yaitu hidup orang itu tidak diberkati Allah.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 83.

إذا جامع أحدكم امرأته، فلا يتنحى حتى تقضى حاجتها، كما يحب أن يقضى حاجته. رواه ابن عدى عن طلق

Apabila seseorang kamu menggauli (mencampuri) isterinya, maka janganlah ia meninggalkannya (isterinya) sehingga ia menyempurnakan akan hajatnya (keinginannya), sebagaimana laki-laki itu menyempurnakan akan hajatnya. (HR. Ibnu 'Ady, Dari Thalaq)

Penjelasan : 
Seseorang yang mencampuri isterinya sehingga terpenuhi nafsunya, kemudian dia meninggalkan isterinya tanpa toleransi, berpindah tempat tidur dan sebagainya, hal itu tidak dibolehkan, tapi laki-laki itu harus berusaha memberi kesempatan kepada isterinya untuk melampiaskan keinginannya (syahwatnya), sebagaimana diri laki-laki itu sendiri. Jadi harus merasakan sama-sama nikmat dalam percampurannya itu.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 84.

إذا حضرتم موتاكم فأغمضوا البصر، فإن البصر يتبع الروح، وقولوا خيرًا فإن الملائكة تؤمن على ما يقول أهل الميت . رواه أحمد عن شداد بن أوس 

Apabila kamu sekalian menghadiri orang yang baru meninggal, maka pejamkanlah matanya, karena sesungguhnya penglihatan itu mengikuti ruh dan katakanlah yang baik-baik, sesungguhnya Malaikat mengaminkan atas perkataan ahli mayat. (HR. Ahmad, Dari Syaddad bin Aus ra.)

Penjelasan : 
Tiap-tiap mata orang yang akan meninggal, penglihatannya selalu ke atas, karena dia melihat ruhnya keluar dari jasadnya. Oleh karena itu apabila dia telah meninggal, cepat-cepatlah memejamkan matanya, agar matanya jangan terbuka terus, dan sebutlah kebaikannya, karena Malaikat turut mengaminkannya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 85.

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران وإذا حكم  فأخطأ فله أجر واحد. رواه البخارى ومسلم

Apabila seorang Hakim memutuskan melalui ijtihad kemudian ijtihadnya itu benar, maka baginya dua pahala, dan apabila dia menghukum kemudian ijtihadnya itu keliru, maka baginya satu pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan : 
Hakim adalah orang yang mengadili sesuatu perkara, dan ditangannya terletak segala keputusan-keputusan. Apabila dia menghukum orang, haruslah berpedoman kepada Al Qur'an dan Hadits, dan apabila tidak terdapat dalam Al Qur'an dan Hadits haruslah memakai ijtihad dengan ilmu pengetahuan menurut semestinya. Tidak boleh berijtihad tanpa ilmu. Jika benar ijtihadnya itu, maka dia diberi pahala dua bahagian, sebahagian karena berijtihad dan sebahagian lagi, karena benarnya ijtihad itu. Tetapi jika ijtihadnya itu keliru, dia mendapat satu bahagian, karena ijtihadnya saja. Adapun kesalahannya itu karena tidak disengaja, maka dia tidak berdosa.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 86.

اذا ختم العبد القران صلى عليه عند ختمه ستون الف ملك. رواه الديلمي عن عمرو بن شعيب

Apabila seseorang menamatkan Al Qur'an turut mendo'akan ketika khatamnya itu, enam puluh ribu Malaikat. (HR. Ad Dailami, Dari Amr bin Syu'aib ra.)

Penjelasan : 
Umat Islam harus pandai membaca Al Qur'an,memahami isinya serta mengamalkannya. Membaca Al Qur'an mendapat pahala yang besar, dan apabila seseorang membaca Al Qur'an sampai tamat, maka orang itu mendapat do'a dari enam puluh ribu Malaikat. Beruntunglah orang yang dido'akan 60.000 Malaikat, semoga do'a Malaikat itu diterima Allah untuknya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 87.

إذا خرج أحدكم إلى سفر فليودع إخوانه فإن الله جاعل له في دعائهم البركة. رواه ابن عساكر عن زيد بن أرقم

Apabila seseorang di antara kamu keluar untuk bepergian hendaklah ia minta diri kepada saudara-saudaranya, karena sesungguhnya Allah menjadikan baginya pada do'a mereka akan keberkatan. (HR. Ibnu ‘Asakir, Dari Zaid bin Arqam ra.)

Penjelasan : 
Apabila seseorang bepergian jauh, hendaklah ia bermohon-diri kepada saudara-saudaranya, bahwa dia akan pergi dan bermaaf-maafan serta do'a-mendo'akan, itu perbuatan yang baik sekali. Mudah-mudahan do'a itu diterima Allah swt. karena pada do'a itu ada terdapat keberkatan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 88.

إذا دخل أحدكم إلى القوم فأوسع له فليجلس فإنما هي كرامة من الله أكرمه بها أخوه المسلم، فإن لم يوسع له فلينظر أوسعها مكانا فليجلس فيه

Apabila salah seorang di antara kamu mendatangi suatu kaum, lalu dilapangkanlah tempat baginya, maka duduklah dia. Sesungguhnya itu adalah kemuliaan dari Allah yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap saudaranya. Jika tidak ada tempat yang lapang baginya, maka hendaklah ia lihat tempat yang agak lapang, lalu duduklah ia di situ. (Dari Abu Syaibah Al Khudri)

Penjelasan : 
Apabila kita bersama-sama di suatu tempat, seumpama dalam masjid atau majelis ta’lim untuk mendengarkan pengajian, pengunjungnya penuh sesak, maka apabila ada orang yang baru datang, jika di tempat kita itu ada yang masih lowong, maka berilah orang yang baru datang itu tempat duduk, yang demikian itu adalah satu perbuatan yang mulia di sisi Allah swt. dan apabila di tempat kita tidak ada yang lowong (sudah sempit) maka yang baru datang itu hendaklah mencari sendiri, di tempat mana yang agak lapang, maka di situlah dia duduk. Hal ini tidak mengganggu kepada ketenteraman umum.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 13, Penerbit Al Haromain)

Hadits 89.

إذا دخل الضيف على القوم دخل برزقه، وإذا خرج خرج بمغفرة ذنوبهم‏.‏ رواه الديلمى عن أنس

Apabila seorang tamu masuk pada suatu kaum, ia datang dengan membawa rizki, dan apabila keluar tamu itu keluarlah dia dengan ampunan dosa untuk mereka. (HR. Ad Dailami, Dari Anas ra.)

Penjelasan : 
Agama Islam mengajarkan kepada manusia supaya memuliakan tamu, barangsiapa yang menerima tamu dengan baik, maka dia akan mendapat pahala. Dan janganlah takut menerima tamu, karena mereka itu membawa rezeki, artinya secara tidak langsung tamu itu tidak akan menyusahkan, walaupun perbelanjaan dapur bertambah, tapi dengan kekayaan Allah, kita akan mendapat rezeki yang bisa menutupi ketekoran itu. Dan semoga dosa kita mendapat ampunan dari Allah dengan keluarnya tamu itu dari rumah, dengan membawa ampunan dari dosa-dosa kita. Tamu itu ada batasnya yaitu sampai 3 hari dan lebih dari itu, maka dia tidak bernama tamu lagi.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 90. 

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبتْ فبات وهو غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح. رواه أحمدعن أبى هريرة

Apabila seorang laki-laki memanggil isterinya ke tempat tidurmya, lalu isterinya enggan, dan bermalamlah (tidur) laki-laki itu dalam keadaan marah kepada isterinya, maka para Malaikat mengutuk perempuan itu hingga pagi hari. (HR. Ahmad, Dari Abu Hurairah ra.)

Penjelasan : 
Isteri yang tak mau memperkenankan kehendak suaminya, diwaktu dipanggil ke tempat tidur, sehingga menimbulkan marah sang suami kepada isterinya, maka isteri itu berdosa dan dia mendapat kutukan Malaikat Kalau wanita tidak dapat lagi melayani kehendak suaminya, mungkin karena fisik wanita itu lemah, sakit dan sebagainya, maka itulah salahsatu sebab orang itu boleh berpoligami.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 91. 

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا. رواه البخارى وملم

Apabila kamu diundang oleh seseorang ke pesta perkawinan, maka datangilah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan : 
Kalau kita diundang ke pesta perkawinan (pesta yang diadakan karena mensyukuri pernikahannya), maka datangilah jika tidak ada halangan penting yang tak dapat ditinggalkan. Sebahagian ulama berpendapat bahwa mendatangi pesta perkawinan itu hukumnya wajib, dan setengah ulama mengatakan
hukumnya sunnat mu'akkad, yaitu sunat yang dipentingkan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 92.

إذا دخل أحدكم المسجد فليركع ركعتين قبل أن يجلس. رواه الجماعة

Apabila seseorang di antara kamu masuk ke dalam mesjid, hendaklah ia shalat dua raka'at sebelum duduk. (Hadits riwayat Jama' ah).

Penjelasan : 
Orang yang masuk mesjid, lalu dia shalat dua raka'at, maka shalatnya itu disebut shalat Tahiyatul masjid, artinya shalat menghormati mesjid, shalat itu dilakukan ketika baru masuk masjid (sebelum duduk). Jadi kalau masuk mesjid janganlah duduk dahulu, tapi shalat lah dua raka'at, sebelum duduk.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 93. 

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ. رواه الشيخان

Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakanlah pintu langit dan dikuncilah pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan. (HR. Asy Syaikhani / Bukhari - Muslim) 

Penjelasan : 
Perkataan Nabi yang tersebut itu adalah kata-kata kiasan, yaitu dengan datangnya bulan Ramadhan, orang-orang Islam wajib mengerjakan puasa. Puasa adalah menahan diri dari makan-minum dan segala yang membukakan dari nafsu kehendak setan. Orang berhati-hati menjaga dirinya dari tipu-daya setan, berarti orang itu telah terpelihara dari dosa, dan orang yang terpelihara dari dosa, tentulah ia menjadi orang yang takwa kepada Allah dan surgalah tempat kediamannya. Jika surga telah terbuka lebar, berarti pintu neraka akan dikunci dan setan-setan tidak akan dapat berkutik lagi dan inilah yang dinamakan setan-setan terbelenggu.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 94.

إِذَا رَأى أحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاَثًا، وَلْيَتَحَوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ. رواه مسلم عن جابر

Apabila seseorang kamu berminmpi yang tak disukainya (jelek), hendaklah ia meludah ke sebelah kiri tiga kali dan berlindung kepada Allah dari godaan setan 3x dan berpalinglah ia dari sisi yang semula
ia tidur. (HR. Muslim, Dari Jabir ra.)

Penjelasan : 
Mimpi Rasul-rasul Allah adalah mimpi yang benar, dan mereka diajarkan Allah akan ta'wil mimpinya itu, tetapi mimpi orang kebanyakkan adalah permainan tidur saja, tak diberitahukan Allah kepadanya akan ta'wil mimpinya itu, tetapi sebahagian manusia ada yang meramalkan ta'wil mimpi, umpamanya jika dia bermimpi kehilangan, rumahnya terbakar tanda dia akan dirugikan, suaminya kawin lagi atau adakalanya kematian dan sebagainya. Apabila seseorang bermimpi yang serupa itu, dan dia menaruh sangka, bahwa ramalan mimpinya itu jelek, maka sewaktu bangun dari tidurnya, bacalah Ta'awwudz (A'udzubillahi minassyaithanirrajim) sebanyak 3x dan lalu lanjutkanlah tidurnya ke sisi yang lain, Insya Allah tidak menjadi apa.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 95.

ذَا رَأى أحَدُكُمْ رُؤيَا يُحِبُّهَا، فَإنَّمَا هِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى، فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهَا، وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وفي رواية: فَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ، فإنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا، وَلاَ يَذْكُرْهَا لأَحَدٍ؛ فَإنَّهَا لا تَضُرُّهُ. رواه البخارى عن أبى سعيد

Apabila seseorang kamu bermimpi yang disukainya (baik), maka sesungguhnya mimpi yang baik itu datangnya dari Allah, oleh karena itu pujilah Allah dan beritakanlah mimpi itu, dan apabila melihat selain demikian, daripada apa yang tak disukai, maka sesungguhnya mimpi itu datangnya dari setan, maka berlindunglah kepada Allah dan jangan disebut-sebut (menceritakan) mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya. (HR. Bukhari, Dan Abi Sa'id ra.)

Penjelasan : 
Jika bermimpi buruk sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, maka berlindunglah ke pada Allah 3 x (membaca ta'awwudz) serta meludah ke sebelah kiri 3 x. Tetapi jika mimpi itu baik, maka sebaliknya yang harus dilakukan, yaitu bacalah pujil-pujian kepada Allah dan boleh mimpi itu diceritakan kepada orang, mudah-mudahan mimpi itu benar-benar membawa yang baik-baik.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain)

Hadits 96.

إذا رأيتم عمودا أحمر من قبل المشرق في شهر رمضان ، فادخروا طعام سنتكم ، فإنها سنة جوع. رواه الطبرانى

Apabila kamu melihat tiang cahaya yang merah dari sebelah Timur pada bulan Ramadhan, maka simpanlah makanan pada tahun itu, maka sesungguhnya tahun itu adalah tahun paceklik (kelaparan ). (HR. Ath Thabrani) 

Penjelasan : 
Jika kita melihat pada bulan Ramadhan di sebelah Timur di ufuk langit ada garis merah yang melintang seperti tiang, (garis lurus yang merah) itu tandanya pada tahun itu musim paceklik, maka berhematlah dan simpanlah makanan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 14, Penerbit Al Haromain) 

Hadits 97.

إذا رَأَى أَحَدُكُمْ جُنازة إن لم يكُن مَاشياً مَعَهَا فَلْيَقُمْ حَتَّى يُخلقها أو  تخلفه، أو توضع من قبل أن تخلفه. رواه البخاري ومسلم

Apabila seseorang di antara kamu melihat jenazah, kemudian ia tidak ikut menghantarkannya, hendaknya ia berdiri lalu meningalkan jenazah tersebut, atau menunggu sampai jenazah tersebut lewat darinya, atau menunggu sampai jenazah tersebut diletakkan sebelum engkau meninggalkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan : 
Apabila kita melihat orang mengusung jenazah atau mobil jenazah yang membawa jenazah di dalamnya, hendaklah kita berdiri sebagai penghormatan kepadanya sampai ia melewati kita, atau kita berdiri kemudian meninggalkannya, atau sebelum meninggalkannya kita terlebih dahulu menunggu sampai ia diletakkan di dalam kuburan. Tata cara penghormatan terhadap jenazah seperti ini adalah bagi yang tidak ikut menghantarkannya sampai ke kuburan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 15, Penerbit Al Haromain)

Hadits 98.

إذا رَأَى أَحَدُكُم امرأة خشناء فأعجبتة فليأت أهله، فإنّ البضع واحد، وَمَعَها مثل الذي معها. رواه الخطيب عن عمر

Apabila seseorang di antara kamu melihat wanita yang cantik lalu ia tertarik kepadanya, maka datangilah ahlimu, sesungguhnya sesuatu yang ada pada wanita itu, ada pula pada keluargamu. (HR. Al Khathib, dari Umar ra.)

Penjelasan : 
Seseorang laki-laki apabila tergoda oleh seorang wanita, maka laki-laki itu hendaklah cepat-cepat pulang ke rumahnya, maka apa yang dia inginkan pada wanita lain itu, ada pula pada isterinya.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 15, Penerbit Al Haromain)

Hadits 99. 

إذا رأى أحدُكُمْ بأخيه بلاء فليخمد الله ولا يشمعة ذلك. رواه ابن النجار عن جابر

Apabila seseorang kamu melihat saudaranya mendapat cobaan, maka pujilah Allah dan janganlah sampai ia mendengar pujianmu itu. (HR. Ibnu Najjar, Dari Jabir ra.)

Penjelasan : 
Tiap-tiap manusia akan mendapat cobaan dari Allah dengan bermacam-macam cobaan, jika orang lain yang mendapat cobaan itu, maka hendaklah kita bertambah mendekatkan diri kepada Allah dengan memujinya dan janganlah kita perdengarkannya, tetapi koreksilah diri, mungkin Allah swt menghukum seseorang karena ia banyak dosanya. Jika ia mendengar pujian itu, nanti ia salah terima, disangkanya kita senang ia dapat cobaan.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 15, Penerbit Al Haromain) 

Hadits 100. 

إِذَا رَأَيْكُمُ الرَّجُلَ يعتاد المساجد، فاشهدوا له بالإيمان. رواه البيهقى عن أبى سعيد

Apabila kamu melihat seseorang yang menjadi pengunjung tetap di Mesjid, maka saksikanlah olehmu ia adalah orang yang beriman.
(HR. Al Baihaqi, Dari Abi Sa'id ra.)

Penjelasan : 
Orang-orang yang rajin ke mesjid untuk melakukan sholat fardhu dan bertekun di dalamnya untuk selalu berdzikir dan senang datang kemasjid untuk memakmurkan masjid, tandanya orang itu orang yang beriman kepada Allah, karena dia telah menyisihkan waktunya untuk berbakti kepada Allah.

(Kitab Mukhtarul Ahadits Nabawiyyah - As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Bab Huruf Hamzah, Halaman 15, Penerbit Al Haromain)

Website : http://www.shulfialaydrus.com/ atau https://shulfialaydrus.wordpress.com/  
Instagram : http://www.instagram.com/shulfialaydrus/  
Twitter : @shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram : https://telegram.me/habibshulfialaydrus/
Telegram Majelis Nuurus Sa'aadah : https://telegram.me/majlisnuurussaadah/   
LINE : shulfialaydrus
Facebook : Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus atau http://www.facebook.com/habibshulfialaydrus/ 
Group Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau https://www.facebook.com/groups/160814570679672/  

Donasi atau infak atau sedekah. 
Bank BRI Cab. JKT Joglo. 
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5. 
Penulis dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom. 

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Tidak ada komentar:

Posting Komentar