Minggu, 09 Agustus 2020

Sanad Musalsal Tasbeh.


Sanad Musalsal Tasbeh.

Menggunakan Subhah (tasbih) untuk menghitung dzikir, bukan termasuk Bid’ah Dhalalah (sesat). Ditemukannya banyak hadits mengenai penggunaan tasbeh sejak generasi terbaik dalam islam menjadi dalil yang zhohir disyariatkannya penggunaan tasbeh untuk berdzikir dan sekaligus sebagai tamparan pendapat yang mengatakan bahwa menggunakan tasbeh itu haram dan menyerupai kerjaan yang dilakukan oleh non muslim dari kalangan para biksu dan pendeta.

Seandainya pun memang para biksu menggunakan tasbeh yang mereka sebut Japamala dan pendeta menggunakan tasbeh yang dinamai Rosario dari bentuk dan bahan yang memang serupa, bukan berarti ajaran Islam nyangkok dari Hindu, Budha atau Nashrani. Lantaran tasbeh hanya sebuah media bukan subtansi ibadah. Keserupaan pada penggunaan media dalam beribadah boleh-boleh aja. Tidak semua perbuatan menyerupai kerjaan orang non muslim itu haram selama keserupaan tersebut dalam hal media. Orang Yahudi dan Nashrani pergi haji ke kota suci mereka “Baitul Lahm” di Yerusalem, dengan menggunakan pesawat sebagai wasilah yang menyampaikan mereka ke sana, orang Islam pergi haji ke kota Makkah juga menggunakan pesawat. Sama juga ente sholat pake pakaian bikinan orang kafir, boleh-boleh aja karena sejatinya itu hanya media bukan subtansi ibadah. Orang Islam menggunakan Tasbeh yang dibaca Istighfar, Shalawat, La Ilaha Ilallah, subhanallah dan lain-lain tentunya berbeda yang dibaca oleh biksu, pendeta dan ahli-uka-uka walaupun sama-sama muter-muter tasbeh.

As-Sayyid ‘Abdullah Bin Muhammad as-Shiddiq al-Ghumariy al-idrisiy al-Hasaniy dalam kitabnya Itqan ash-Shan’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah halaman: 45, mengatakan:

وَالسُّبْحَةُ تَضْبِطُ الأَعْدَادَ الْمَأْثُوْرَةَ، وَلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ فَالسُّبْحَةُ مَشْرُوْعَةٌ.

“Tasbih bisa menghitung jumlah-jumlah dzikir yang dianjurkan dalam sunnah. Dan karena alat-alat untuk ibadah memiliki hukum yang sama dengan tujuannya itu sendiri; yaitu ibadah, maka berarti tasbih juga disyari’atkan (Artinya, karena dzikir disyari’atkan maka alat untuk berdzikir-pun disyari’atkan)”.

Imam Ahmad Bi Baba Alawiy as-Syinqithiy salah seorang ulama beken pembesar Thariqah Tijaniyah mengatakan dalam nazham Munyatil Murid;

واتخذ السبحة للاعانة ** وعمل الامام ذي الديانة

Gunakan tasbeh agar dapat membantu akurasi bilangan yang dihitung, dan menjadi rutinitas ulama besar yang menjadi tokoh agama (imam Junaid al-Baghdadiy)."

Di antara hadits-hadits yang dijadikan dalil menggunakan tasbeh sebagai berikut:

Pertama: Hadits Shafiyah (isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam):

عَنْ كِنَانَةَ مَوْلَى صَفِيَّةَ قَال سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تَقُولُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا فَقَالَ لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِي فَقَالَ قُولِي سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ .

“Dari Kinanah budak Shafiyah berkata, saya mendengar Shafiyah berkata: Rasulullah pernah menemuiku dan di tanganku ada empat ribu nawat (bijian korma) yang aku pakai untuk menghitung dzikirku. Aku berkata,”Aku telah bertasbih dengan ini.” Rasulullah bersabda,”Maukah aku ajari engkau (dengan) yang lebih baik dari pada yang engkau pakai bertasbih?” Saya menjawab,”Ajarilah aku,” maka Rasulullah bersabda,”Ucapkanlah :
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ. (Maha Suci Allah sejumlah apa yang diciptakan oleh Allah dari sesuatu).” [Riwayat Imam Tirmidzi]

Kedua : Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash:

أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ .

“Dia (Sa’ad bin Abi Waqqash) bersama Rasulullah menemui seorang wanita dan di tangan wanita tersebut ada bijian atau kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih (dzikir). Rasulullah bersabda,”Maukah kuberitahu engkau dengan yang lebih mudah dan lebih afdhal bagimu dari pada ini? (Ucapkanlah): Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di langit, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di bumi, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya diantara keduanya, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya sejumlah yang Dia menciptanya, dan ucapan: اللَّهُ أَكْبَرُ seperti itu, َالْحَمْدُ لِلَّهِ seperti itu, dan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِseperti itu.” [Riwayat Imam Abu Daud]

Ketiga : Hadits Abu Hurairah, ia berkata:

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ بِالْحَصَى

“Rasulullah sering kali bertasbih dengan menggunakan kerikil.” [Riwayat Abul Qasim al-Jurjaniy]

Keempat: Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Naim Bin al-Muharrar:

«أَنَّهُ كَانَ لَهُ خَيْطٌ فِيهِ أَلْفَا عُقْدَةٍ، فَلَا يَنَامُ حَتَّى يُسَبِّحَ بِهِ»

Artinya: Abu Hurairah memiliki benang (tasbeh) yang terdiri dari 1000 ikatan, beliau tidak pernah tidur sebelum menggunakannya untuk bertasbih.” (Riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya).

Dari iqrar Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam berdasarkan hadits di atas dan adanya perbuatan yang dilakukan oleh para shahabat beliau dapat dijadikan argumen bahwa bertasbih dengan kerikil atau biji-bijian ada keutamaan atau faedah pahalanya. Karena seandainya tidak ada keutamaannya, berarti Rasulullah menyetujui ibadah yang sia-sia, yang tidak berpahala, dan jelas hal ini tidak mungkin terjadi. Rasulullah tidak akan mendiamkan sesuatu yang tidak ada gunanya.

Syekh Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash di atas, dalam kitab Mirqat al-Mafatih Syarh al-Misykat al-Mashabih jilid 3 halaman: 54, menuliskan sebagai berikut:

وَهذَا أَصْلٌ صَحِيْحٌ لِتَجْوِيْزِ السُّبْحَةِ بِتَقْرِيْرِهِ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّهُ فِيْ مَعْنَاهَا، إِذْ لاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُوْمَةِ وَالْمَنْثُوْرَةِ فِيْمَا يُعَدُّ بِهِ.

“Ini adalah dasar yang shahih untuk membolehkan penggunaan tasbih, karena tasbih ini semakna dengan biji-bijian dan kerikil tersebut. Karena tidak ada bedanya antara yang tersusun rapi (diuntai dengan tali) atau yang terpencar (tidak teruntai) bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung dzikir”.

Adapun dalil yang selama ini digunakan oleh kelompok orang yang melarang menggunakan Tasbeh adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada wanita yang bernama Yusairah:

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّقْدِيْسِ، وَلاَ تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُوْلاَتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ (أخرجه ابن أبي شيبة وأبو داود والترمذيّ)

“Bacalah oleh kalian Tasbih, Tahlil dan Taqdis, dan jangan lupa memohon rahmat Allah, dan hitunglah dengan jari-jari tangan karena nanti di akhirat jari-jari tersebut akan ditanya dan nantinya akan berbicara dan menjawab”. (HR. Ibn Abi Syaibah, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Imam Muhammad Bin Ali as-Syaukaniy (wafat tahun 1250 Hijriyah) rahimahullah menyebutkan dalam kitab Nailul Author Syrh Muntaqal Akhbar jilid 2 halaman 366:

أن الأنامل مسئولات مستنطقات يعني أنهن يشهدن بذلك فكان عقدهن بالتسبيح من هذه الحيثية أولى من السبحة والحصى . والحديثان الآخران يدلان على جواز عد التسبيح بالنوى والحصى وكذا بالسبحة لعدم الفارق لتقريره صلى اللَّه عليه وآله وسلم للمرأتين على ذلك . وعدم إنكاره والإرشاد إلى ما هو أفضل لا ينافي الجواز

“Sesungguhnya ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Maka, menghimpun (menghitung) tasbih dengan jari adalah lebih utama dibanding dengan untaian biji tasbih dan kerikil. Dua hadits yang lainnya, menunjukkan bolehnya menghitung tasbih dengan biji, kerikil, dan juga dengan untaian biji tasbih karena tidak ada bedanya, dan ini perbuatan yang ditaqrirkan (didiamkan/disetujui) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap dua wanita tersebut atas perbuatan itu. Dan, hal yang menunjukkan dan mengarahkan kepada hukum yang lebih utama tidak berarti menghilangkan hukum boleh.” 
Imam Bisyriy al-Hafiy melihat sebuah Tasbeh di tangan gurunya bernama Umar al-Makkiy dan ia bertanya tentang tasbeh itu. Umar al-Makkiy menjawab: Aku melihat Imam Hasan al-Bashriy memegang tasbeh, ketika itu aku bertanya: “Wahai guru, pangkatmu yang begitu besar dan ibadahmu yang begitu bagus, mengapa sampai sekarang kau masih menggunakan tasbeh? Imam Hasan al-Bashri menjawab:

هَذَا شَيْء كُنَّا استعملناه فِي البدايات، مَا كُنَّا لنتركه فِي النهايات، أنا أحب أَن أذكر اللَّه بقلبي ولساني ويدي .

Dengan tasbeh ini kami gunakan saat awal-awal menempuh jalan Allah, tidak akan kami tinggalkan walaupun sudah sampai finish lantaran aku sangat senang melakukan kolaburasi saat berdzikir kepada Allah dengan hati, lisan dan tanganku.

Begitulah akhlaq dan adab para shufi dalam beribadah kepada Allah, di mana mereka menghendaki aktifitas zhahir batin mereka adalah dzikrullah (mengingat Allah). Bukan sekedar hati dan lisan tetapi juga tangan mereka ikut serta ambil bagian beribadah.

Sebagaimana pelaku ma’shiyat saat melakukan perbuatan dosa, mereka ingin merasakan kelezatan dan puncak keni’matan yang sempurna mereka. Tahukah anda, mengapa para peminum khomar sebelum mengkonsumsi minuman mereka sering melakukan tos (mengadu gelas-gelas mereka satu sama lain)? Karena keni’matan khomar yang mereka minum bakal dirasakan oleh seluruh anggota tubuh mereka kecuali telinga. Saat gelas-gelas yang mereka pegang sebelum minum khamar mereka adu satu sama lain di situlah mereka telah memasukan kelezatan pada telinga mereka sehingga sudah tidak ada lagi anggota tubuh melainkan semua kebagian keni’matannya.

Dari keterangan di atas sangat jelas bahwa pendapat yang mengharamkan menggunakan Tasbeh untuk berdzikir atau berdizkir dengan tasbeh itu perbuatan sesat cangkokan dari ajaran Hindu dan Budha adalah suatu tuduhan yang sangat batil. Pernyataan tersebut merupakan jargon kelompok ekstrim dari kalangan orang bodoh yang datang belakangan dan bertolak belakang dengan ajaran para ulama salafus shalih.

Untuk mengetahui dalil secara komprehensif tentang disyariatkannya menggunakan Tasbeh dalam berdizkir, silahkan anda membaca kitab : al-Minhah Fi as-Subhah (Anugrah dalam membicarakan hukum Subhah). Di dalamnya juga disebutkan tokoh_tokoh ahli shufi yang menggunakan tasbeh di antarnya Imam Junaid al-Baghdadiy, Abu Muslim al-Khaulaniy, imam Hasan al_Bashriy dan lain-lain. Sebagaimana diketahui bahwa imam Hasan al-Bashriy radhiyallahu anhu menjadi salah satu ulama terbaik di kalangan tabiin yang sempat bertemu dan belajar kepada beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan beliau meriwayatkan khirqah (selendang yang dipakai kaum shufi) dan subhah (tasbeh) dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karramallahu wajhah.

Imam al-Ghazaliy radhiyallahu anhu mengatakan dalam kitab al-Munqidz Minad Dhalal:

أن الصوفية هم السالكون لطريق الله خاصة وأن سيرتهم أحسن السير وأن أخلاقهم أزكى الأخلاق فإن جميع حركاتهم وسكناتهم في ظاهرهم وباطنهم مقتبسة من نور مشكاة النبوة وليس وراء نور النبوة نور يستضاء به على وجه الارض.

Sesungguhnya kaum shufi adalah para penempuh jalan Allah Taala sejati, perjalanan hidup mereka menjadi sejarah terbaik, akhlaq mereka adalalah perangai terpilih. Seluruh gerak dan diam mereka zhohir batin merupakan aflikasi dari cahaya lentera kenabian lantaran tidak akan ditemukan di muka bumi ini cahaya yang bersinar menjadi petunjuk selain dari cahaya petunjuk Nabi.

Dengan tumpukan dalil shahih yang dikemukakan oleh para ulama, menggunakan Tasbeh untuk berdizkir memiliki keutamaan yang besar sehingga para ahli ma’rifah menyatakan:

لا تتركن سبحة نالت بها أمم * من المريدين أسرارا وأنوارا
ذاقت بها بعدما جدت مذاق رضى * حتى علت فوق ذاك النجم مقدارا
فمن بها كان مشغولا على أدب * لا ريب يجني من الخيرات أثمارا

Artinya: Jangan kau pernah kau tinggal tasbeh, banyak para penempuh jalan Allah yang mendapat asrar (rahasia) dan cahaya dengan sering membawa tasbeh. Mereka merasakan sinyalemen keridhaan Allah dengan selalu menggunakan tasbeh hingga meraih derajat tinggi bagai bintang di langit. Siapa saja dirinya disibukan menjalankan adab saat menggunakan tasbeh tidak diragukan lagi ia akan memetik buah matang dari berbagai macam kebaikan.

Subhah atau Tasbeh merupakan perhiasan orang berdzikir, tadzkirah (pengingat) orang lalai, syiar para ahli shufi dan ahli ma’rifah, mengunggah keridhaan Allah. Cukup kemuliaan bagi para pecinta Subhah (tasbeh) bahwa sanya kata Subhah menjadi isytiqaq (pecahan) dari kata Tasbih yang berarti Tanzih (mensucikan Allah).

Jangan pernah membawa Tasbeh ke dalam kamar mandi atau toilet dan meletakannya pada tempat-tempat yang menghinakan seperti di dalam jok motor atau sebagainya.

Guru kami, Syekh Muhammad Arabiy Bin al-Mahdiy Ighider al-Maghribiy hafizhahullah marah besar bila melihat ada seseorang melempar tasbeh atau meletakan tasbeh di lantai sejajar dengan telapak kaki. Bila melihat demikian beliau langsung buru-buru mengangkatnya dan merah muka beliau menasehati orang tersebut agar jangan lagi-lagi melakukannya saraya berkata: "Tasbeh itu adalah hablul wushul (tali yang menyampaikan kepada keridhaan Allah), melempar tasbeh ke bawah tempat sejajar dengan kaki termasuk ihanah (penghinaan) terhadap sesuatu yang dimuliakan."

Sedangkan bahan yang sangat bagus dijadikan Tasbeh di antaranya: Marjan, Oud Shalib, Yuser, Unnab, Kayu Zaitun, Batu Yaqut, Kauka, Batok Kelapa, Tulang Ikan Marlin, Gahru, Cendana, Kantil layu (orang Betawi menyebutnya Itil Layu) dan lain-lain. Untuk Kayu Unnab menjadi siar dzikir para ulama wilayah Afrika khususnya Maroko, mesir dan Tunisia. Disebutkan dalam kitab as-Subhah Wa Masyruiyyatuha:

 من أراد الفتح فعليه بالعناب ومن أراد الغنا فعليه باليسر

Artinya; Siapa yang ingin cepat mendapatkan Futuh hendaknya berdzikir dengan menggunakan Tasbeh Unnab. Bila ingin menjadi orang kaya gunakan Tasbeh Yuser.”

Sampai Sayidi Syekh Ahmad Bin Muhammad at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu menggunaka Tasbih dari jenis Yuser dan Unnab yang memang menjadi kebanggan para penempuh jalan Allah Taala di kalangan wali-wali Quthb.

Perlu diketahui, yang penting adalah istiqomah dzikirnya yang dapat menyebabkan wushul bukan dari macem tasbehnya. Terlebih lagi zaman sekarang banyak penjual Marjan palsu, yuser odong-odong, oud sholib imitasi, Unnab bajakan, Yaqut sintetis dan sebagainya.

Banyak beredar marjan di Indonesia, penjualnya menyebut dengan istilah Redcolar, padahal itu bukan marjan tetapi karang bata. Karang bata dan marjan sama-masa disebut tumbuhan dasar laut yang menjadi batu, akan tetapi perbedaan keduanya sangat berbeda. Marjan yang asli bila dibelah atau dipotong bagian dalamnya berwarna putih berserat tajam keras, tetapi bila disiram dengan air akan merah kembali. Adapun marjan palsu yang disebut karang bata, bila dibelah dalamnya masih merah dan getas (murag atau gempur kata orang Betawi). Sedangkan Yuser asli adalah yang tumbuh di dasar laut Merah, yang banyak beredar adalah jenis bahar biasa.

Pedagang hanya ingin barangnya laris dan untung besar, hingga ia menyebutkan fadhilah-fadhilah bahan tasbeh yang ia jual. Padahal yang ia jual bukan asli, seandainya aslipun untuk mendapatkan asrar dari macam-macam tasbeh kudu ada ijazah khusus dan cara khusus untuk membuatnya. Imam Daud al-Anthakiy menyebutkan banyak keutamaan Oud Sholib dalam kitab Tadzkirah ulil al-Bab, dan beliau meneliti Oud sholib dikatakan manjur punya khasiat yang disebutkan dengan syarat bahwa memetik batang kayu oud sholib tidak boleh menggunakan benda tajam, bila dipotong dengan benda tajam maka seluruh khasiatnya akan hilang.

Lebih baik berdizkir dengan memakai tasbeh yang terbuat dari biji salak atau biji klengkeng tetapi asli dari pada marjan, yuser, unnab palsu. Punya uang asli 100 ribu asli, lebih bahagia dari pada punya uang jutaan uang monopoli atau duit doraemon. Punya duit sejuta dua juta hasil keringat sendiri dari kerjaan yang halal menjadikan anda mulia, tetapi punya duit milyaran dari kanjeng dimas taat pribadi al-kibuli jadi kehinaan dunia akherat.

Adapun jalur transmisi yang disebut dengan Musalsal Bi Munawalah Subhah (Sanad menggunakan Tasbeh) alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus) riwayatkan ijazahnya sanadnya sebagai berikut:

قال الحبيب محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس وقال الحاج رزقي ذو القرنين البتاوي ناولني فضيلة الدكتور يوسف عبد الرحمن المرعشلي، وكياهي عبد الرزاق امام خليل الجاوي، وكياهي أحمد مروزي البتاوي سبحتهم قالوا ناولني شيخنا العلامة المسند الشيخ محمد ياسين الفاداني  قال أخبرنا الشيخ محمد علي ين حسين المالكي وناولني سبحته ورأيتها بيده قال أخبرني أبي الشيخ حسين بن ابراهيم الأزهري المالكي وناولني سبحته ورأيتها بيده، قال أخبرني شيخي عثمان بن حسن الدمياطي وناولني سبحته ورأيتها بيده قال أخبرني محمد الأمير الكبير وناولني سبحته ورأيتها بيده قال حدثنا شهاب الدين أحمد الجوهري الكبير وناولني سبحته ورأيتها بيده قال حدثنا الشَّيْخ عَبْد اللَّهِ بْن سالم الْبَصْرِيّ الْمَكِّيّ ، ورأيت فِي يده سبحة ، قَالَ : ناولني الْعَلامَة الشَّيْخ مُحَمَّد بْن سُلَيْمَان الْمَغْرِبِيّ ، قَالَ : نالوني شيخنا أَبُو عُثْمَانَ الْمُقْرِي ، رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ، السبحة المباركة بَعْد أَن رأيتها فِي يده ، أَخْبَرَنَا سيدي أَحْمَد حجي ، وَفِي يده سبحة ، أَخْبَرَنَا سيدي إِبْرَاهِيم التازي ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي الفتح المراغي ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي الْعَبَّاس أَحْمَد بْن أَبِي بَكْر الرداد ، وَفِي يده سبحة ، عَن مجد الدين مُحَمَّد بْن يَعْقُوب بْن مُحَمَّدٍ الفيروزآبادي اللغوي ، وَفِي يده سبحة ، عَن جَمَال الدِّينِ يُوسُف بْن مُحَمَّدٍ القرمزي ، وَفِي يده سبحة ، عَن تَقِيِّ الدِّينِ بْن أَبِي الثناء محمود بْن عَليّ ، وَفِي يده سبحة ، عَن مجد الدين عَبْد الصمد ابْن أَبِي الجيش الْمُقْرِي ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِيهِ ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي الْفَضْلِ مُحَمَّد بْن الناصر ، وَفِي يده سبحة ، عَن مُحَمَّد بْن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ السمرقندي ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي بَكْر مُحَمَّد بْن عَلِيٍّ السلامي الحداد ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي نصر عَبْد الْوَهَّابِ بْن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو ، وَفِي يده سبحة ، عَن أَبِي الْحَسَن الْقَاسِم الصُّوفِيّ ، وَفِي يده سبحة ، قَالَ : سمعت أَبَا الْحَسَنِ الملاكي ، وَقَدْ رَأَيْته وَفِي يده سبحة ، فَقُلْتُ : يا أستاذ ، وأنت إِلَى الآن مَعَ السبحة ؟ ، يَقُول : كَذَا رأيت أستاذي الْجُنَيْد وَفِي يده سبحة ، فَقُلْتُ : يا أستاذ ، وإلى الآن مَعَ السبحة ؟ ، قَالَ : كَذَا رأيت أستاذي سري بْن مغلس السَّقَطِيّ وَفِي يده سبحة ، فَقُلْتُ : يا أستاذ ، وأنت إِلَى الآن مَعَ السبحة ؟ ، قَالَ : كَذَا رأيت أستاذي مَعْرُوف الْكَرْخِي وَفِي يده سبحة ، فسألته عما سألتني عَنْهُ ، فَقَالَ : كَذَا رأيت أستاذي بشرا الحافي وَفِي يده سبحة ، فسألته عما سألتني عَنْهُ ، فَقَالَ : رأيت أستاذ عمرا الْمَكِّيّ وَفِي يده سبحة ، فسألته عما سألتني عَنْهُ ، فَقَالَ : رأيت أستاذ الْحَسَن الْبَصْرِيّ وَفِي يده سبحة ، فَقُلْتُ : يا أستاذي ، مَعَ عظم شأنك ، وحسن عبادتك ، وأنت إِلَى الآن مَعَ السبحة ؟ ، فَقَالَ : هَذَا شَيْء كُنَّا استعملناه فِي البدايات ، مَا كُنَّا لنتركه فِي النهايات ، أنا أحب أَن أذكر اللَّه بقلبي ولساني ويدي

Imam Ibn Abu Thayyib mengutip pendapat Abul Abbas ar-Raddad yang mengatakan: Telah jelas dari ucapan Imam Hasan al-Bashriy radhiyallahu anhu bahwa menggunakan Tasbeh sudah ada di zaman para shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana di ketahui tanpa ada yang meragukan Kridebelitas Imam Hasan Bashriy yang merupakan seorang Tabiin yang bertemu banyak para shahabat. Beliau dilahirkan saat Sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu 2 tahun menjadi khalifah. Sanad Khirqah, Subhah beliau dapatkan dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.

Berdzikir dengan menggunaka Subhah memiliki multi fungsi, selain dijadikan pengingat berdzikir dengan jumlah yang tepat juga sebagai terapi dengan senam jari. Memutar tasbeh dengan Jempol (ibu Jari) memiliki manfaat besar, karena menjadi titik refleksi yang berhubungan dengan paru-paru dan saluran pernafasan. Bila dipijat terasa sakit berarti si penderita terkena flu, asma, infeksi saluran dan lain-lain. Bila ibu jari kanan yang sakit, berarti organ pernafasan yang kanan sedang sakit. Begitu pula sebaliknya.

Betapa Indahnya berdzikir dengan Tasbeh, seorang penyair mengatakan dalam gubahan syairnya:

وسبحة أناملي قد شغفت بحبها ** مثل مناقير غدت ملتقطات حبها

Tasbeh yang aku puter dengan jari-jariku telah membuat aku jatuh cinta. Jari-jari tersebut bagai cocot (paruh) burung yang sedang mematuk biji-bijian.

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu secara langsung tanpa perantara.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Aku akan memberikan kepadamu 3 hadits:

Pertama: "Selama bau biji kopi Bun masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya."

Kedua: “Siapa saja yang membawa Subhah (tasbeh) dia akan dicatat sebagai orang yang berdzikir baik ia sedang gunakan berdzikir atau tidak."

Ketiga: "Siapa saja yang menziarahi seorang wali baik yang masih hidup atau yang telah wafat, maka dirinya mendapat keutamaan pahala orang yang beribadah di setiap sudut bumi sampai dirinya terpotong-potong."

Alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus) ijazahkan sanad musalsal tasbih untuk siapa saja yang mau mengambil sanad tersebut melalui jalur alfaqir, katakan qobiltu bila ingin mengambilnya agar menyambungkan sanad tersebut secara batin.

Instagram : @shulfialaydrus
Twitter : @shulfialaydrus dan @shulfi
Telegram : @shulfialaydrus
Telegram Majelis Nuurus Sa'aadah : https://telegram.me/habibshulfialaydrus
LINE : shulfialaydrus         
Facebook : Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus
Group Facebook : Majelis Nuurus Sa’aadah atau https://www.facebook.com/groups/160814570679672/

Donasi atau infak atau sedekah.
Bank BRI Cab. JKT Joglo.
Atas Nama : Muhamad Shulfi.
No.Rek : 0396-01-011361-50-5.
           
Penulis ulang dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس


7 komentar: